Dari empat koleksi utama Audemars Piguet, tiga di antaranya berakar pada desain legendaris Royal Oak. Tak heran jika brand ini sering dianggap konservatif dalam pendekatan desainnya. Namun sesekali, AP membuktikan keberaniannya dengan merilis jam tangan yang benar-benar berbeda dari pakem oktagonalnya.
Pada 2024, mereka mengejutkan dunia lewat model brutalist Audemars Piguet [Re]Master02, desain yang menuai pro dan kontra, tetapi jelas berani. Kini, AP kembali keluar dari zona nyaman melalui Neo Frame Jumping Hour, jam tangan yang menghidupkan kembali estetika 1929 dengan sentuhan futuristik.
Apa Itu Jumping Hour?
Menurut penjelasan resmi AP, komplikasi jumping hour merevolusi cara membaca waktu dengan menggantikan jarum jam tradisional menjadi angka yang “melompat” setiap 60 menit. Sistem ini pertama kali muncul sekitar tahun 1650 pada jam malam (night clocks), lalu diadaptasi ke jam saku abad ke-18 untuk meningkatkan keterbacaan.
Seiring berkembangnya jam tangan pada periode antar-perang, tampilan jumping hour semakin populer karena tampil modern sekaligus praktis. Model ikonik seperti Cartier Tank à Guichets menjadi contoh paling terkenal dari era tersebut.
Namun bukan hanya Cartier yang menguasai komplikasi ini. Antara 1924 hingga 1951, Audemars Piguet menjual 347 jam tangan dengan tampilan jumping hour, termasuk 135 model dengan dua jendela (dual apertures).
Salah satu yang paling langka adalah Pre-model 1271 (1929–1930). Hanya 14 unit dibuat dalam empat varian logam mulia, termasuk satu versi platinum unik yang kini tersimpan di museum internal AP. Model platinum inilah yang menjadi inspirasi utama Neo Frame Jumping Hour terbaru.
Neo Frame Jumping Hour: Interpretasi Modern dari Warisan 1929
Sejalan dengan filosofi koleksi [Re]Master, Neo Frame bukanlah replika masa lalu. Ia adalah reinterpretasi modern dengan proporsi kontemporer dan teknologi mutakhir.
Desainnya mempertahankan bentuk persegi panjang khas Pre-model 1271, dibingkai modul emas di sisi kanan-kiri dengan tekstur khas. Gaya ini terinspirasi dari aliran Streamline Moderne, cabang akhir Art Deco yang mengedepankan bentuk aerodinamis dan garis lengkung elegan.
Dimensi dan Material
- Panjang: 47,1 mm
- Lebar: 34 mm
- Tebal: 8,8 mm
- Material: 18k pink gold
Di setiap sisi terdapat 8 gadroon (lekukan dekoratif) yang memanjang hingga membentuk lug runcing. Motif ini dibuat menggunakan mesin CNC dan juga terlihat pada caseback, crown, serta rotor.
Jika model jumping hour klasik menggunakan dial logam, Neo Frame hadir dengan dial sapphire berlapis PVD hitam. Menariknya, tidak ada bingkai logam di posisi 12 dan 6, kaca sapphire terekspos langsung, menciptakan tantangan teknis dalam hal ketahanan air.
Untuk memastikan water resistance hingga 20 meter, pelat dial direkatkan ke kristal sapphire lalu disekrup ke dalam casing, teknik khusus yang dikembangkan untuk model ini.
Tampilan tetap klasik:
- Jendela jam di posisi 12 (bentuk persegi panjang, sistem jumping hour)
- Jendela menit di posisi 6 (bentuk lengkung, trailing minutes)
Angka putih pada disc hitam matte menciptakan efek visual seolah waktu diproyeksikan dari dalam dial.
Di balik sapphire caseback, terdapat Calibre 7122, pengembangan dari Calibre 7121 yang sebelumnya diperkenalkan pada Royal Oak Jumbo 16202ST.
Spesifikasi utama:
- Frekuensi: 4Hz
- Power reserve: 52 jam
- Rotor: emas solid openworked
- Disc jam: titanium
- Disc menit: aluminium
- Sistem anti-shock berpaten untuk mencegah lompatan jam akibat benturan
Meski mekanisme jumping hour memerlukan energi lebih besar, power reserve tetap kompetitif berkat penggunaan material ringan seperti titanium dan aluminium.
Jam ini dipadukan dengan strap kulit anak sapi hitam bertekstur, menyatu rapi di antara lug dan menciptakan kesinambungan visual antara dial dan strap. Hasilnya adalah tampilan yang elegan, dramatis, sekaligus modern.
Leave a comment